Oleh : Azis Khafia al.Batawi
(Betawi Intellectual Networks/BIN)
Lebaran Betawi adalah Silaturahim masyarakat Betawi setelah satu bulan beribadah puasa, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan "Halal bil Halal" namun masyarakat betawi menggunakan istilah "Lebaran Betawi".
Meski istilah lebaran betawi sudah ada dan berlangung sejak zaman dahulu, terutama di kampung-kampung betawi dan masih dapat bertahan dan bisa disaksikan terutama di kawasan Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng Jakarta Barat.
Namun sejak tahun 2008 secara Formal Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) sebagai wadah sentral organisasi dan tokoh masyarakat Betawi saat itu menyelenggarakan "Lebaran Betawi" pertama kali atas inisiasi Amarullah Asbah dan mendapat dukungan dari Fauzi Bowo selaku Wakil Gubernur Jakarta dan Sylviana Murni (Walikota Jakarta pusat).
Sejak saat itu dan hingga saat ini. Masyarakat Betawi didukung Pemerintah Daerah bersama-sama mengadakan silaturahim antara warga masyarakat betawi dengan pemerintah daerah, disertai dengan tradisi anteran dan saling mengunjungi (silturahim) antar masyarakat dengan seluruh jajaran pemerintah daerah Jakarta sekaligus menampilkan hiburan dan kuliner khas betawi pada daerah masing-masing.
Pada tahun 2026 ini sudah genap 18 tahun event kemitraan antara masyarakat betawi dengan pemerintah daerah di laksanakan. Ada situasi dan kondisi yang berbeda tentunya, antara lain saat ini masyarakat betawi telah memiliki wadah sentral kultural satu-satunya yakni Majelis Kaum Betawi (MKB).
Merupakan kesepahaman bersama seluruh kaum betawi yang di prakarsai oleh Bamus Betawi dan Bamus Suku Betawi 1982. Hal ini sebagai wujud adaptasi dan amanah kosntitusi (Undang-undang DKJ no.2 tahun 2024). Maka lebaran betawi 2026 merupakan Lebaran Betawi yang memiliki pesan dan kesan penting bagi masyarakat Betawi dan pemerintah Daerah Jakarta.
Lebaran Betawi dan Jakarta Kota Global
Jakarta kini adalah pusat ekonomi dan bisnis nasional dan internasional atau Jakarta Kota Global dengan kebudayaan betawi sebagai identitas utamanya, demikian salah satu point penting Undang-undang DKJ nomor 2 tahun 2024.
Bagi kaum betawi kata global bukan sesuatu yang asing dan baru, karena masyarakat betawi lahir dan tumbuh penuh dengan sentuhan lokal (Nusantara) dan Tionghoa, Jepang (Asia), Belanda, Portugis, Inggris (Eropa) dan Arab (Timur Tengah), unsur-unsur tersebut mewarnai adat dan tradisi betawi.
Momentum Lebaran betawi selain ajang silaturahim masyarakat Jakarta dengan Pemerintah Daerah juga menjadi moment untuk mengenal adat dan tradisi betawi secara lebih mendalam dan komprehensif. Sebuah tradisi atraktif yang kaya dan sarat akan nilai-nilai spiritual, sosial dan cultural.
Pertama, Pesan spiritual, karena lebaran betawi adalah keberlanjutan dari ibadah puasa dan ibadah romadhan lain nya, maka dengan lebaran betawi diharapkan menjadi moment penguatan dan peningkatan ibadah dan kebaikan lainnya.
Kedua, Pesan Sosial, lebaran betawi menjadi moment perekat ikatan sosial masyarakat untuk saling bahu membahu, saling menguatkan dan saling mencerahkan.
Ketiga, Pesan Kultural, lebaran betawi adalah upaya mentradisikan kebaikan betawi dalam sebuah atraksi dan festival kebudayaan betawi yang masih tumbuh dan berkembang di masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Lebaran Betawi ke-18 kali ini memiliki pesan dan kesan yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini karena untuk kali pertama kaum Betawi memiliki wadah keadatan baru yakni Majelis Kaum Betawi (MKB) yang dipimpin oleh Fauzi Bowo dan Gubernur Jakarta saat ini, Pramono Anung, yang memiliki komitmen besar terhadap identitas betawi sebagai identitas utama kota Jakarta.
Oleh karenanya momen ini harus menjadi moment yang menghadirkan kolaborasi Nusantara dan Global dalam penyajian Lebaran Betawi 2026 ini. Demikian disampaikan Azis Khafia saat menghadiri Halal bil halal Forum Ulama dan Habaib Jakarta di Kebayoran lama siang tadi. (ANS)
