NEWSGEMAJAKARTA.COM, Jakarta – Dukungan terhadap kinerja Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Arifin, menguat di tengah derasnya kritik yang beredar melalui media sosial. Sejumlah tokoh muda Tanah Abang menilai penilaian terhadap seorang kepala daerah seharusnya didasarkan pada fakta, capaian kerja, serta kondisi nyata di lapangan, bukan semata opini yang berkembang di ruang digital.
![]() |
| tokoh muda Tanah Abang sekaligus pengacara muda Jakarta, H. Okis Bangkit, SH. |
Salah satu dukungan datang dari tokoh muda Tanah Abang sekaligus pengacara muda Jakarta, H. Okis Bangkit, SH. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik akan lebih bernilai apabila disampaikan secara objektif, proporsional, dan didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Kalau ada yang mengkritik kinerja Pak Wali Kota, itu hak setiap warga. Namun akan lebih baik jika kritik tersebut disampaikan berdasarkan fakta dan secara langsung. Pak Arifin adalah sosok yang terbuka terhadap masukan, terutama yang bersifat membangun," ujar Okis.
Ia menilai anggapan yang menyebut Arifin hanya mengandalkan pencitraan di media sosial tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Menurutnya, Wali Kota Jakarta Pusat tersebut dikenal aktif turun langsung ke lapangan untuk memastikan berbagai persoalan masyarakat mendapat penanganan sekaligus mengawal pelaksanaan program pembangunan.
Sebagai contoh, Okis menyoroti agenda rutin setiap Selasa malam ketika Arifin menggelar pertemuan tatap muka dengan warga Jakarta Pusat. Dalam forum tersebut, berbagai persoalan masyarakat dibahas secara langsung dan dicarikan solusi bersama.
Tak hanya itu, Arifin juga disebut secara terbuka membagikan nomor telepon pribadinya kepada warga yang hadir agar masyarakat dapat menyampaikan pengaduan maupun informasi secara langsung apabila menemukan persoalan di wilayahnya.
"Ini menunjukkan beliau ingin membangun komunikasi tanpa sekat dengan masyarakat. Tidak semua kepala daerah bersedia membuka akses komunikasi pribadi seperti itu," katanya.
Okis juga memaparkan sejumlah program yang telah direalisasikan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat sebagai bukti nyata kepemimpinan Arifin. Di sektor infrastruktur, misalnya, dilakukan pengaspalan Jalan Pasar Baru Barat dan Jalan Karet Bivak pada Desember 2025 yang sebelumnya lama dikeluhkan warga akibat kondisi jalan yang rusak.
Pada sektor sosial, Pemkot Jakarta Pusat melaksanakan program bedah rumah di Jalan Sukabumi pada Juli 2025. Program serupa kembali dilaksanakan pada Januari 2026 bagi warga terdampak kebakaran di kawasan Bungur, Kecamatan Senen, sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat.
Sementara itu, di bidang penataan kawasan, revitalisasi Kebon Kacang telah dilakukan pada 30 Mei 2026 untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman. Saat ini, proses penataan juga terus berjalan di kawasan Jati Petamburan.
Perhatian terhadap sektor pendidikan juga menjadi sorotan. Menurut Okis, Arifin turun langsung mengunjungi rumah Ananda Rafa dan Ananda Aulia yang sempat terancam putus sekolah guna memastikan keduanya tetap memperoleh hak atas pendidikan.
Selain berbagai program tersebut, Arifin juga rutin melakukan pemantauan wilayah. Setiap Rabu pagi, ia bersepeda menyusuri sejumlah ruas jalan di Jakarta Pusat untuk memantau kebersihan lingkungan, mengecek fasilitas umum, sekaligus mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penanganan cepat.
Bagi Okis, aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial bukan sekadar membangun citra, melainkan bagian dari transparansi pemerintahan sekaligus sarana mempercepat respons terhadap aspirasi masyarakat.
"Yang terpenting bukan seberapa sering seorang kepala daerah muncul di media sosial, tetapi apakah di balik itu ada kerja nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangan kami, Pak Arifin telah membuktikan hal tersebut melalui berbagai program yang sudah berjalan," tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan H. Bardata, putra tokoh legendaris Tanah Abang, Bang Yusuf Muhi atau Bang Ucu. Menurutnya, kritik yang berlebihan terhadap Wali Kota Jakarta Pusat bisa saja dipengaruhi oleh pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu atau tidak menginginkan perubahan di wilayah tersebut.
Meski demikian, Bardata menegaskan bahwa kritik tetap menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan kritik secara sehat, beretika, objektif, dan berdasarkan fakta yang dapat diuji.
"Kami bukan anti-kritik. Justru kritik sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi. Namun, kritik harus disampaikan dengan etika, objektif, dan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Warga Jakarta Pusat tentu dapat menilai sendiri bagaimana kinerja Pak Wali Kota selama ini," pungkasnya.(Lexi).



