Berita Terbaru

Kategori

Langganan Berita

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Aksi Tolak Warga Muara Angke di Kantor UPT

By On May 16, 2013

GemaJakarta - Puluhan masyarakat pengasinan PHPT Muara Angke yang tergabung dalam Paguyuban Nelayan & Pengolah Ikan Asin atau yang disebut PNPI Muara Angke menggelar aksi penolakan dengan rencana berdirinya rumah susun di depan kantor UPT Muara Angke, Rabu (15/5) siang hari.

Peristiwa itu berawal katika ada kabar akan dibangunnya rumah susun dilahan pengasinan, sehingga saat itu bersamaan pula di ruang rapat kantor UPT, PKPP & PPL sedang berlangsung rapat yang dilakukan pihak instansi Dinas Perikanan & Pertanian terkait rencana Pemprov membangun Rusun di lahan pengasinan Muara Angke.

sebelumnya pihak Pemprov DKI Jakarta berencana membangun rumah susun tematik di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara. Rusun tematik yang akan dibangun di Muara Angke nantinya diperuntukan bagi nelayan serta dilengkapi ruangan khusus budidaya ikan.

Dikatakan basuki beberapa waktu lalu, bahwa rusun tematik yang akan dibangun di Muara Angke akan dihuni bagi para nelayan. Rusun tematik memiliki konsep satu tower berjumlah di bawah 100 unit dan dilengkapi ruang khusus budidaya ikan.

Menanggapi hal tersebut masyarakat pengasinan menilai hadirnya rumah susun akan mengancam kegiatan usaha atau penghasilan mereka, dalam pantauan tim wartawan GemaJakarta pada Rabu siang, terlihat puluhan masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban atau disebut PNPI berbondomng-bondong menyerukan protes dengan membawa spanduk bertuliskan "Tolak Pembangunan Rumah Susun di Pengasinan Muara Angke" di depan Kantor UPT saat rapat sedang berlangsung.

H.Delo Wakil Ketua Paguyuban Nelayan & Pengolah Ikan Asin (PNPI) Muara Angke mengatakan, "kehadiran Rumah susun di lahan pengasinan Muara Angke justru akan menjadi gelombang dilema berkepanjangan, jika tuntutan dan penolakan mereka tidak di akomodir secara baik" ujarnya.

Reporter : Nurhalim, Sutisna
Ed : Heri Haerudin
Saran & Kritik : redaksi.gemajakarta@gmail.com

Jakarta Islamic Center Dilengkapi Hotel

By On October 22, 2012


Untuk memenuhi kebutuhan jamaah Masjid Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, pengelola secara bertahap melengkapi sarana masjid dengan sejumlah fasilitas mulai dari sarana pendidikan, bisnis, hingga perhotelan (wisma). Penambahan fasilitas masjid yang dibangun sejak era Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu, diharapkan rampung pada akhir tahun 2012.

Kasubag Humas Jakarta Islamic Center (JIC), Paimun Abdul Karim mengatakan, alasan dibangunnya wisma JIC karena Pemprov DKI Jakarta ingin membangun masjid yang memiliki konsep sarana pendidikan, bisnis, perekonomian, dan tempat penginapan seperti zaman Nabi Muhammad SAW. Sebab, masyarakat masih menganggap masjid merupakan tempat ibadah saja. "Kalau wisma ini selesai dibangun, otomatis semakin banyak para jamaah yang berdatangan mengunjungi masjid ini," ujar Paimun, Senin (22/10).

Menurutnya, luas lahan wisma tersebut sekitar 21.452 meter persegi. Wisma itu akan dibagi 3 gedung, yaitu gedung bisnis center dengan luas 5.653 meter persegi, convention hall atau balai pertemuan 4.582 meter persegi, dan hotel 11.217 meter persegi. "Wisma ini dibangun tahun 2007 dan direncanakan rampung pada akhir tahun ini dengan memakan biaya Rp 278 miliar," katanya.

Dijelaskannya, nantinya konsep bisnis center ini memiliki 5 lantai, dan dilengkapi perkantoran, serta pusat perdagangan yang menjadi kiblat ekonomi umat Islam. Selain itu, terdapat perbankan, kantor notaris dan hukum, retail dan sarana pendukung. Sedangkan convention hall yang akan dibangun memiliki kapasitas 1.500 orang. Begitu pun hotel yang dibangun memiliki 10 lantai dengan fasilitas 150 kamar. "Wisma ini juga untuk membangun masyarakat agar gemar shalat di masjid, karena bila wisma ini selesai, banyak pengunjung yang shalat di masjid. Masjid menjadi ruh pembangunan yang lain," ucapnya.

Paimun mengeluhkan, saat ini jamaah di JIC masih tergolong sepi, yaitu rata-rata hanya 300 orang per hari. Kondisi ini jelas berbeda pada saat Shalat Jumat yang bisa hingga 6.000 jamaah yang datang. Bahkan, pada Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha bisa mencapai 40 ribu jamaah. "Pembangunan konsep ini tetap memiliki bangunan fisik yang berciri khas Islami, dan monumental seperti bentuk bangunan yang ada di Masjid JIC dan menyerupai masjid di zaman nabi," tuturnya.

Selain membangun wisma, kata Paimun, pihaknya juga tengah membangun gedung pelatihan dan pendidikan dengan memakai konsep sekolah. "Biaya untuk pembangunan gedung ini sebesar Rp 59 miliar. Gedung ini dibangun dari tahun 2005 dan selesai tahun 2014," imbuhnya.(bjc)