GP Ansor, AMPP, Pemuda Katolik, dan KPSHD Adakan Kegiatan Forum Lintas Agama Menyambut Sumpah Pemuda di Jakarta Barat

Iklan Semua Halaman


.

GP Ansor, AMPP, Pemuda Katolik, dan KPSHD Adakan Kegiatan Forum Lintas Agama Menyambut Sumpah Pemuda di Jakarta Barat

27 Oktober 2019
Gema Jakarta, Jakarta - Dalam rangka menyambut Sumpah Pemuda, beberapa OKP lintas agama bergabung mengadakan kegiatan Forum Lintas Agama pada Sabtu (26/10) di Grogol Petamburan, Jakbar.

Pada kegiatan ini, diadakan ikrar Sumpah Pemuda oleh para pimpinan OKP lintas agama diantaranya GP Ansor, Angkatan Muda Protestan Pluralistik (AMPP), Pemuda Katolik, dan Keluarga Pemuda Suka Duka Hindu Dharma (KPSHD).

Dilanjutkan dengan testimoni dari putra pejuang dan ceramah tokoh-tokoh lintas agama bertemakan Sumpah Pemuda.

R.M.E Tjokrosantoso, putra pejuang kemerdekaan menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah langkah awal untuk menunjukkan bahwa kebhinnekaan masih ada.


"Disinilah kita melihat Indonesia. Karena Indonesia lahir dari perbedaan", tuturnya.

"Pertemuan hari ini harus terus dibina dan dibuat rutin, jangan hanya ceremonial saja. Harus ada pendalaman Nasionalisme dalam jiwa dan pendalaman Ideologi Pancasila untuk setiap pemuda-pemuda Indonesia. Saya sudah diskusikan bersama para tokoh lintas agama, kita siap untuk memberikan edukasi tentang Ideologi Pancasila dan Nasionalisme secara rutin", ungkap tokoh kepemudaan yang akrab dipanggil Bung Tjokro ini.

“Maju terus pemuda-pemuda Indonesia, karena masa depan Indonesia tergantung kepada perilaku kalian hari ini", tandas Bung Tjokro, yang juga merupakan pendiri Gerakan Revolusi Pemuda (Garuda).

Gusti Ketut Putra selaku pembicara perwakilan pemuda Hindu (KPSHD) mengajak kepada para pemuda lintas agama untuk menjaga kondusifitas dan menciptakan kesejukan NKRI

"Mari tingkatkan silahturahmi antar pemuda. Dulu tokoh pemuda yg berasal dari berbagai pulau dan berbeda agama bisa bersatu, tanpa adanya sarana dan prasarana yg memadai seperti zaman sekarang", paparnya.

"Generasi muda zaman sekarang bisa lebih bersatu dengan adanya alat komunikasi dan transportasi yg lebih mendukung", tandas Gusti Ketut Putra yang juga menjabat sebagai Kanit Bimas Polsek Tanjung Duren, Jakbar.

"Saya harapkan pemuda banyak berbuat dan berperan untuk memajukan bangsa", tambahnya.

Sementara itu Beny Wijayanto, selaku pembicara yang mewakili Pemuda Katolik mengajak para pemuda lintas agama dan masyarakat untuk belajar dari pengalaman masa lampau dan mengambil makna pentingnya merawat ingatan bersama untuk masa depan.

"Bangsa ini diperjuangkan tidak hanya untuk kepentingan satu golongan, dan ada begitu besar andil dari banyak pihak. Keragaman adalah sebuah keniscayaan, dan mari kita rawat bersama!", tegas Beny yang juga merupakan pengurus Pemuda Katolik.

Jeirry Sumampouw, pembicara perwakilan dari Angkatan Muda Protestan Pluralistik (AMPP) juga menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hakekat kebangsaan kita, dan Sumpah Pemuda adalah sebuah penegasan terhadap realitas perbedaan itu.

"Justru karena realitas seperti itu maka Sumpah Pemuda dicetuskan oleh para pemuda ketika itu", pungkasnya.

"Dengan adanya Sumpah Pemuda itu para pendiri bangsa ini ingin mengatakan bahwa perbedaan itu jangan jadi sesuatu yang memecah belah bangsa. Tapi harus menjadi potensi dan kekuatan kita untuk membangun bangsa Indonesia", ungkap Jeirry dengan nada optimis.

"Sumpah Pemuda ingin menegaskan bahwa persatuan penting dalam konteks yang majemuk ini. Sebab jika tidak, maka bangsa kita akan terpecah belah dan hancur", tambahnya.

"Melihat tantangan kebangsaan yang makin sulit berkaitan dengan menguatnya radikalisme dan intoleransi, maka upaya menumbuhkan solidaritas dan persatuan atas dasar perbedaan suku dan agama, perlu terus kita perkuat dan tingkatkan", tandas Jeirry yang juga aktivis dan pengamat sosial politik.

Ceramah tokoh-tokoh lintas agama ditutup oleh K.H. Abdurrahman Masduki, selaku penceramah mewakili Gerakan Pemuda Ansor dan Banser.

Dalam memberikan ceramah, Kyai Masduki banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat sembari memberikan pemahaman tentang Bhinneka Tunggal Ika, serta persatuan bangsa, dikemas secara ringan namun berbobot.

"Forum Lintas Agama (Forliga) merupakan bukti kebhinnekaan. Walaupun berbeda, namun tetap bisa bersatu", ujarnya.

 "Ternyata kita yang berbeda-beda, bisa berbuat bersama, dan justru lebih indah", ungkapnya

"Keindahan kebersamaan dalam kebhinnekaan dapat dirasakan, indahnya perbedaan itu ibarat "jari jemari", tutup K.H. Abdurrahman Masduki.

Selain ceramah tokoh-tokoh lintas agama, kegiatan Forum Lintas Agama yang diadakan Sabtu (26/10) juga dimeriahkan dengan bazar murah.

"Dalam bazar murah, kita menjual paket sembako subsidi sekitar tiga ratus paket, dan sekitar seratus pakaian layak pakai", ungkap Pricillia Kathrine selaku Ketua Panitia.

"Mewakili seluruh panitia kegiatan Forum Lintas Agama, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak dan instansi yang telah mendukung kegiatan ini", tutur Pricil yang juga merupakan Wakil Ketua AMPP. (Andre/Heri)