Berita Terbaru

Kategori

Langganan Berita

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Viral, Fahri Hamzah Himbau Masyarakat Pilih Deddy Mizwar

By On June 26, 2018



NEWSGEMAJAKARTA - JAKARTA - Sehari jelang Pilkada, wakil ketua DPR Fahri Hamzah memberikan dukungan kepada Paslon Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi pada Pilgub Jabar yang digelar besok.

Melalui akun Twitter-nya Fahri menghimbau kepada calon pemilih untuk objektif dalam memilih calon pemimpin Jabar. Menurutnya, Deddy Mizwar (Demiz) adalah cagub yang paling realistis untuk dipilih.

"Saya menghimbau agar ada mobilisasi massa pemilih kepada yang akan menang. Sesuai survey objektif aja. Jangan sampai kita pecah dan musuh menang mudah. Demiz adalah pelanjut Aher juga, siapa bisa bantah?." Twit Fahri melalui akunnya @Fahrihamzah.

Dukungan mantan politikus PKS ini diprediksi akan menambah suara dukungan yang signifikan kepada pasangan nomer urut 4 itu.

Sebelumnya, dari hasil banyak survei menyebut Demiz dan pasangannya Dedi Mulyadi bersaing ketat dengan pasangan RINDU untuk memenangkan Pilgub Jabar yang akan dilangsungkan besok.

Tak hanya dari hasil survei, banyak pakar dan pengamat politik juga memprediksi paslon Duo DM akan memenangkan Pilgub Jabar kali ini.

Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Karim Suryadi  yang pernah mengatakan Duo DM atau Deddy Mizwar dan Deddy Mulyadi berpeluang besar untuk menjadi kepala daerah  Jawa Barat mendatang.

"Duo DM atau Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi ini saya kira peluang sangat besar dan lebih rasional," kata Karim Suryadi ketika dihubungi wartawan (RO)

Soal Iwan Bule Jadi Pj Gubernur Jabar, Ray Rangkuti : Mendagri Terlalu Memaksakan

By On June 20, 2018



NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA - Pengamat politik Ray Rangkuti menegaskan penunjukkan Komjen M. Iriawan sebagai penjabat Gubernur Jabar oleh Mendagri terlalu dipaksakan. Mendagri seperti tidak peduli pada protes masyarakat yang menolak keras dilibatkannya anggota kepolisian di dalam pemerintahan.

"Mendagri ngotot dengan argumen seadanya menunjuk yang bersangkutan sebagai penjabat Gubernur Jabar," tegasnya saat dihubungi wartawan (19/6).

Menurut Ray, Mendagri hanya melihat dasar hukum peraturan yang mereka buat sendiri. Karena aturan itu dibuat sendiri, tentu saja punya kecenderungan akan mengakomodir kepentingan pemerintah sendiri.

"Permendagri No 1/2018 dibuat sedemikian rupa untuk memang ramah pada keinginan politik pemerintah. Mendagri juga seperti mengabaikan UU No 2/2002 tentang kepolisian soal larangan polisi merangkap jabatan di luar tugas kepolisian." Imbuhnya.

Jikapun harus bertugas di institusi lain, lanjut Ray, harus tetap berkaitan dengan tugas kepolisian, seperti di BNN dan atas penugasan dari Kapolri.

Sementara itu, Ahli ilmu politik dan pemerintahan dari Universitas Katholik Parahyangan, Prof. Asep Warlan Yusuf, menilai penunjukkan Komjen Iriawan sebagai penjabat Gubernur Jabar sangat kental muatan politiknya. Meskipun menurutnya tidak ada regulasi yang dilanggar oleh Mendagri.

"Karena ini jelang pilgub, motif politik tentu saja ada, dan itu yang diasumsikan publik akan menguntungkan salah satu Paslon. Motif politik ini yang harus dicermati betul." Ujarnya saat dihubungi wartawan, Selasa (19/6).

Spekulasi politik dibalik penunjukkan ini pun tidak dapat terhindarkan. Pasangan Hasanah yang didukung oleh PDIP adalah pasangan yang dianggap paling dicurigai karena berasal dari kepolisian (Anton Charlian) dan saat ini posisi politiknya berada pada urutan paling buncit menurut berbagai survey politik.

Pasangan berikutnya yang dianggap bakal mendapat misi politik dari penunjukkan tersebut adalah pasangan Ridwan Kamil dan Uu Rihzanul karena partai pendukung pasangan ini seluruhnya adalah partai pendukung pemerintahan Jokowi (PKB, Nasdem dan PPP). 

Kemudian, pasangan Ridwan Kamil ini menurut berbagai survey bersaing ketat dengan pasangan Dedi Mizwar dan Dedi Mulyadi sehingga dicurigai memerlukan intervensi dari kekuasaan.

Oleh karena itu, menurut Asep Warlan, Iriawan harus menjawab kecurigaan publik atas kuatnya motif politik dibalik penunjukkan dirinya sebagai penjabat gubernur Jabar.

"Dia harus membuktikan dengan tiga hal; pertama, komitmen untuk menjaga netralitas. Kedua, kinerjanya tetap bagus dan melayani. Dan ketiga, akseptabilitas atas kinerjanya bisa diterima oleh publik." Imbuhnya.(ro/ril)

Melalui Partai PBB Dr.Dewi Yuliawati Maju Sebagai Calon Legislatif

By On April 21, 2018

Bakal Caleg Wanita Dr.Dewi Yuliawati saat diterima Oleh Sekjend PBB Fery Afriansyah Noor
NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA - Partai Bulan Bintang pimpinan DR. Yusril Ihza Mahendra menjadi idola para calon bacaleg, mulai dari tokoh di internal partai PBB sendiri maupun tokoh diluar PBB bahkan banyak dari tokoh Partai Islam lainnya yang ikut daftar menjadi bacaleg.

Salah satunya adalah Dr.Dewi Yuliawati, sosok perempuan yang pernah menjadi Direktur Rumah sakit Binamulya Pasar Rebo ini pun ikut andil dalam pencalonan untuk maju sebagai Bakal Calon Legislatif Partai Bulan Bintang (PBB).

Menurutnya, Partai ini sangat konsisten membela kepentingan umat Islam, banyak hal-hal yang perlu perbaikan terutama dari sektor kesehatan untuk rakyat miskin, masih ada ketimpangan pelayanan dan prosedur yang dilakukan oleh rumah sakit.

“Jika yang berobat warga miskin, mereka sulit untuk mengakses informasi terkait hak mereka sebagai pasien,” ujar Dr.Dewi Yuliawati

Ibu berjilbab bersuamikan pengusaha ini pun meminta dukungan dan do’a warga Jakarta, khususnya Daerah Pemilihan (DAPIL) wilayah Jakarta Timur untuk bersama-sama membela Islam dan NKRI melalui Partai Islam.

“Partai Bulan Bintang (PBB) insya Allah, menjadi idola kaum ibu Majelis Taklim di Jakarta,” pungkasnya mengakhiri perbincangan saat menunggu kedatangan Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang (PBB), Fery Afriansyah Noor.

PSTN : Perusahaan Besar & Strategis, Telkom Tak Bisa Dikelola Dengan 'Manajemen Warteg'

By On April 21, 2018

NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA - 162 (Seratus enam puluh dua) tahun sudah PT Telkom Indonesia berkiprah melayani negeri. Usia 162 tahun Telkom, merupakan tonggak bersejarah bagi bangsa dalam proses melayani, ber-inovasi hingga menjelma menjadi kekuatan raksasa telekomunikasi nasional.

"Geliat industri telekomunikasi nasional sejak PT Telkom lahir hingga saat ini, menjadi sebuah rekam sejarah dari usia lahir hingga menjadi sebuah Korporasi yang maha besar, setidaknya diukur dari aset dan jaringan telekomunikasi yang tersebar hingga pelosok negeri", demikian di sampaikan Budiman, Peneliti pada Pusat Studi Telekomunikasi Nasional (PSTN) dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (20/04/2018).

Kata Budiman, lalu bagaimana saat ini melihat PT Telkom Era Alex Sinaga, disaat industri telekomunikasi bergerak kearah komunikasi digital. Banyak yang pesimis memandang PT Telkom dimasa sekarang. Telkom adalah perusahaan yang sangat strategis bagi negara karena menyangkut komunikasi yang di butuhkan oleh setiap orang. Sebagai perusahaan besar tak bisa Telkom ini di kelola dengan 'manajemen warteg'

"Pesimisme ini bukan tak beralasan. Nilai kapitalisasi pasar Telkom yang tahun sebelumnya menembus angka 450 triliun, merosot jauh hanya dikisaran 350 triliun rupiah. Ada penurunan hingga 100 triliun. Angka fantastis, karena kerja untuk sampai kesana bukanlah pekerjaan ringan", tegas Budiman

Selain itu sambung Budiman, harga saham Telkom yang tahun-tahun sebelumnya mampu menembus 6000 rupiah/lembar kini terjun bebas di kisaran 3700 rupiah, bahkan diperkirakan akan terus turun hingga akhir tahun ini.

Disisi lain, performa perusahaan kian menurun dari sisi pelayanan publik. Keluhan atas gangguan layanan internet dan sinyal menjadi informasi lazim dimasa sekarang. Miris memang, tetapi itulah keadaan PT Telkom saat ini.

Di satu sisi, skandal sim card bodong yang melibatkan Telkom dan seluruh operator kian memukul wajah industri telekomunikasi. 1 KK dipakai untuk registrasi ratusan ribu nomor sim card, cetus Budiman.

Dia menambahkan, masalah lain yang tak kalah serius adalah data Kominfo soal 43 juta nomor pelanggan Telkom yang belum registrasi hingga akhir maret, kian memukul PT Telkom. Padahal, salah satu yang menjadi aset penting bagi industri telco adalah banyaknya jumlah pelanggan. Tahun lalu, dicatat ada 173 juta pelanggan milik Telkom. Angka yang sangat fantastis.

Soal Satelit Telkom-1 yang hancur tahun lalu, pemerintah dibuat kalang kabut untuk menyelamatkan Telkom dari tekanan dan kemarahan banyak pihak. Manajemen PT Telkom sungguh teledor dalam menangani soal satelit Telkom-1. 

Keteledoran yang telah menjadi bumerang. Salah siapa, kita tunjuk saja hidung Alex Sinaga. Dialah orang yang paling bertanggungjawab selaku orang nomor satu di salah satu perusahaan terbesar negara ini.

"Kita sulit untuk membangun optimisme menyaksikan kerja manajemen Telkom saat ini yang boleh dibilang 'gak beres' dan serampangan. PT Telkom butuh perbaikan dan perombakan manajemen. Jika terus begini nasib buruklah yang akan menghampiri", ungkap Budiman.

Kini bola ada ditangan pemerintah. Mendiamkan keadaan akan terus begini, atau lakukan perubahan untuk kepentingan besar negara. Bertahan dengan keadaan sekarang atau bertindak untuk mencari solusi. "162 tahun Telkom Indonesia, teruslah melayani masyarakat", pungkas Budiman.(*)

Partai Berkarya Peroleh Nomor Urut 7 (Tujuh) Pada Pemilu 2019

By On February 18, 2018

NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA - Sejumlah Ketua Umum dan petinggi dari 14 partai politik (Parpol) yang menjadi peserta pemilu 2019 mulai berdatangan ke Kantor Komisi Pemilihan Umum RI (KPU), di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, mulai pukul 18.30 wib.

Kedatangan para petinggi parpol tersebut tak lain adalah untuk mengambil undian nomor urut peserta pemilu 2019. Adapun mekanismenya, partai politik hadir dan duduk sesuai urutan abjad nama partai politik, mulai Partai Amanat Nasional (PAN) dan terakhir Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pantauan Kontributor Gema Jakarta hadir di antaranya Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya, Huto‎mo Mandala Putra (Tommy Soeharto) beserta jajaran. Partai berlogo pohon beringin merupakan salah satu Partai yang lolos ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dengan mengenakan jas berwarna kuning tua, putra Presiden Kedua Soeharto tersebut tiba ke KPU didampingi sejumlah pengurus Partai Bekarya. Tommy hanya berkomentar singkat kepada wartawan saat tiba di kantor KPU.

Ia bersyukur Partai Berkaya lolos verifikasi dan menjadi peserta pemilu. "Alhamdulillah Lolos," ujar Tommy sambil tersenyum.

Partai Berkarya dipimpin oleh Neneng A Tutty dengan didampingi oleh Badaruddin Andi Picunang sebagai Sekretaris Jenderal. Partai ini juga memiliki Ketua Majelis Tinggi dan Dewan Pembina Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto.

‎Ketua Umum Partai Berkarya Neneng A Tutty, terlahir 15 November 1964, merupakan politisi yang sudah malang melintang di dunia politik.

Dia juga mantan Ketua Umum Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI). Neneng mengawali kariernya sebagai artis layar lebar. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Nasional Republik (Nasrep).

Dalam mengambil undian nomor urut peserta pemilu 2019, akhirnya Partai Berkarya mendapatkan Nomor Urut 7 (Tujuh). Adapun ke 14 partai tersebut yakni, Partai PKB memperoleh Nomor Urut 1 (Satu), Partai Gerindra 2, Partai PDIP Nomor Urut 3, Partai Golkar Nomor Urut 4, Partai Nasdem nomor Urut 5, Partai Garuda Nomor Urut 6,  Partai Berkarya Nomor Urut 7, Partai PKS Nomor Urut 8, Partai Perindo Nomor Urut 9, Partai PPP Nomor Urut 10, Partai PSI Nomor Urut 11, Partai PAN Nomor Urut 12, Partai Hanura Nomor Urut 13 dan terakhir Partai Demokrat Nomor Urut 14.(rm-in/red)

Nusron Prediksi Prabowo Tak Akan Lawan Jokowi di Pilpres 2019

By On February 15, 2018

NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA - Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa dan Kalimantan Partai Golkar Nusron Wahid menilai Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tidak akan maju sebagai calon presiden di 2019.

Hal itu disampaikan saat Nusron menjadi narasumber dalam pemaparan hasil survei lembaga Indo Barometer di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (16/2).

"Saya meyakini lawannya Jokowi bukan Pak Prabowo. Entah siapa orangnya saya meyakini bukan Prabowo. Hidung politik saya sudah merasakan," kata Nusron.Seperti dikutip cnnindonesia.com, Kamis (15/2/2018)
Nusron mengaku keyakinan itu hanya berdasarkan perasaan dan intuisinya sebagai politikus. Tidak ada alasan khusus yang disebutkan terhadap pernyataannya itu.

"Intuisi dan feeling politik saya mengatakan Pak Prabowo tidak akan maju dan mendorong orang untuk maju," katanya.

Meski demikian, Nusron memprediksi Pilpres 2019 hanya memunculkan dua calon. Selain karena agar lebih irit anggaran, dua calon dianggap tidak mengurangi kualitas dan outputnya.
Dalam survei Indo Barometer, Presiden Joko Widodo masih menduduki posisi teratas dengan 97 persen terkait tingkat pengenalan publik terhadap capres. Setelah itu, disusul Jusuf Kalla 91,5 persen, Prabowo 87,7 persen dan Megawati Soekarnoputri 84,7 persen.

Dalam kategori capres yang disukai publik Jokowi mendapat 75,1 persen, Gatot Nurmantyo 70,2 persen, Jusuf Kalla 66,2 persen, Prabowo 64,2 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 61,2 persen dan Hary Tanoesoedibjo 57,6 persen.

Jokowi juga menduduki peringkat pertama untuk elektabilitas calon presiden pada pertanyaan terbuka dengan meraih 32,7 persen, disusul Prabowo 19,1 persen, Basuki Tjahaja Purnama 2,9 persen dan Gatot Nurmantyo 2,7 persen.
Survei Indo Barometer dilaksanakan pada 23-30 Januari 2018 dengan sampel sebanyak 1.200 responden dan margin of error 2,83 persen serta tingkat kepercayaan 95 persen.

Metode yang digunakan dalam survei ini multistage random sampling dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terhadap warga yang berusia minimal 17 tahun. (wis/asa)

Liber Simbolon : Perbedaan Itu Saling Melengkapi, Pemilihan Pemimpin Daerah Adalah Amanah Undang-undang

By On January 14, 2018

Dr. Ir. H. Solahuddin Wahid (Gus Solah/Adik Presiden RI IV Gusdur) dan Liber Simbolon
NEWSGEMAJAKARTA.COM, JAKARTA – Perbedaan adalah saling melengkapi dan sudah menjadi kodrat Tuhan untuk diciptakan berbeda yakni bunga warna warni , bintang warna warni ada bulan yang berbeda dengan matahari , mahluk yang berbagai jenis dan lainnya. Demikian dikatakan Liber Simbolon menyikapi kondisi Pilkada saat ini, Kamis (11/1/2018).
Menurutnya, hanya perusak yang tak menyukai perbedaan, mungkin memandangnya sebagai musibah bukan rahmat dan anugerah. Coba bayangkan bila nama manusia di dunia semua sama, berarti itu mustahil dan tak akan pernah sama.
Perbedaan, kata Liber Simbolon, jangan dipertentangkan , tapi harus diambil hikmah dan manfaatnya serta artinya. Didalam perbedaan bisa saling mengisi dan melengkapi keterbatasan masing-masing menjadi sesuatu yang sempurna dan indah bagi kebersamaan , bukan malah jadi bencana.
Pemilihan kepala daerah adalah sebagai jalan demokrasi yang diamanatkan undang-undang. Mari lepaskan ego yang sering jadi penghambat kebersamaan dan kedamaian serta pembawa musibah dalam hidup.
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, sehingga menjadi salah satu daya tarik buat investor asing bahkan sebuah negara untuk menguasai.
Pilkada harus melahirkan pemimpin yang bertanggung jawab  dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kalau tidak maju signifikan berarti ada yang salah dan harus menyadari adanya perubahan. Masyarakat harus memilih dan berjiwa rela menjadi peserta dalam proses pemilihan kepala daerah.
Hal ini adalah semata untuk memilih pemimpin yang bersih, melayani masyarakat sehingga relawan membantu agar saat proses pemilihan kepala daerah tidak dicurangi dan ditelikung.
“Kita yang menciptakan perubahan itu dan kita yang mewujudkan nya, Indonesia pasti lebih baik,” ujar Liber Simbolon Dosen Universitas Bung Karno Jakarta ini.

Caroline Sampaikan Kepada Masyarakat, Pilkada 2018 Provinsi Banten Harus Damai.

By On January 06, 2018


NEWSGEMAJAKARTA.COM, Tangerang - Pemilihan Kepala Daerah yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada 2018, diperkirakan tensi politik akan semakin memanas. Tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, Kota Serang juga Kota Tangerang.

Hal ini pun menjadi perhatian khusus bagi Caroline, selaku Tokoh Masyarakat Banten, yang menyatakan pendapatnya bahwa gesekan politik tentunya akan sulit dihindarkan. Namun demikian banyak kalangan dibeberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Banten menginginkan pelaksanaan Pilkada 2018 agar berjalan dengan damai dan fair play.

“Saya berharap pertarungan politik di Provinsi Banten semuanya berjalan damai, fair flay, dan tidak memakai Money Politik, yang tentunya menyesatkan serta menghacurkan marwah Demokrasi yang sudah dibangun sejak era reformasi lalu,” ungkapnya, Sabtu (6/1/2018).

Masih kata Caroline, event Demokrasi 5 tahunan di tingkat lokal adalah titah konstitusi, dimana rakyat memiliki hak penuh dipilih dan memilih dalam pengelolaan negara, baik di level pusat maupun daerah, yang seharusnya sehat, adil, dan beradab malah kita diperlihatkan kontestasi politik yang diwarnai dengan adanya perilaku barbarian, hoax, dan sangat jauh dari nilai-nilai Demokrasi Pancasila yang kita semua anut.

“Faktanya, beberapa event Politik malah melahirkan kebiasaan destruktif yang mencoreng wajah demokrasi itu sendiri,” keluh Caroline.

Oleh karena itu, lanjut Caroline, maka kami meminta agar semua elemen masyarakat, terutama yang akan menggelar Pilkada supaya cerdas menyaring setiap informasi. Tidak mudah untuk di adu domba, selektif dan juga kritis. Namun, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban.

“Siapapun pemimpin yang terpilih nanti kedepannya, agar benar-benar refresentasi hasil dari suara rakyat,” pungkasnya mengakhiri (usm/red)

DPP Taruna Merah Putih Gelar Diskusi Kebangsaan ke Enam

By On December 08, 2017


NEWSGEMAJAKARTA.COM, Jakarta - DPP Taruna Merah Putih kembali menggelar Diskusi Kebangsaan yang ke enam di Sekretariat Pusat DPP, Gondangdia, Jakarta Pusat, Kamis, (7/12/2017). Hadir dalam Diskusi tersebut Ketua DPD Taruna Merah Putih Kalbar Karolina Margret Natasa yang juga sekaligus menjabat sebagai Bupati Landak Kalbar.

Adapun sebagai pembicara diskusi kebangsaan dibawakan oleh Reni Suwarso pengamat dari Universitas Indonesia dan Sonya H. Sinombor wartawan senior. Sekitar seratusan peserta yang sebagian besar perempuan semakin menambah semaraknya suasana.

Diakui bahwa keterwakilan 30 persen perempuan di legislatif masih memerlukan perjuangan yang panjang dan perempuan harus berbuat lebih baik serta berkomitmen guna memperjuangkan masyarakat yang adil dan lebih sejahtera dalam politik walaupun di lain pihak.

“politik itu boros waktu, tenaga dan bahkan uang, sehingga waktu buat anak maupun keluarga menjadi berkurang dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan," tutur Karolina M Natasa.

Menurut Karolina yang pernah menjadi Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini menyampaikan, bahwa metode terbaik apabila perempuan mau berpolitik atau terjun ke bidang legislatif adalah manfaatkanlah posisi perempuan dengan baik, lalu selalu bertatap muka dengan masyarakat atau konstituen dan jangan berhenti untuk terus belajar.


"Agar kepentingan perempuan lebih terakomodir maka kita harus bekerjasama dengan laki-laki karena ini berbicara tentang kepentingan yang terintegrasi walaupun kritikan dari kalangan perempuan sendiri kadang lebih pedas dan tragis, sementara komitmen terhadap pemberdayaan perempuan memang memerlukan perhatian kita semuanya," pungkasnya.(fri-in/red)

Kubu BUYA Mendapatkan Perlakuan Politik Intimidasi

By On November 25, 2017


NEWSGEMAJAKARTA.COM, Kota Serang - Indonesia menganut sistem demokrasi Pancasila, alam demokrasi yang dibangun memberi ruang terbuka kepada setiap warga negara, baik secara individu maupun bersifat untuk berkumpul, serta menyalurkan hak dan kewajiban politiknya.

Hal itu diungkap Syamsul Bachri kepada tim GemaMedia Network (GMN) melalui Press Releasnya, Sabtu (25/11/2017), hal itu tentunya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dikatakan Syamsul, mekanisme yang diatur dalam demokrasi salah satunya adalah proses suksesi kepemimpinan, pada konteks Pilkada, aplikasi dari demokrasi Pancasila diatas tertuang dalam undang-undang nomor 8 tahun 2015 pasal 42 huruf a.

“Undang-undang tersebut mengatur tentang pencalonan kepala daerah melalui partai politik, gabungan partai politik, atau jalur perseorangan.” Ungkapnya kepada Tim GemaMedia Network.

Menurutnya, dapat dipahami betul, bahwa undang-undang diatas berfungsi sebagai payung hukum sekaligus jaminan bagi individu maupun kelompok untuk ikut serta dalam kontestasi Pilkada.

Lebih jauh, Syamsul mengatakan, berdasarkan undang-undang diatas pulalah warga Kota Serang mendeklarasikan bakal pasangan calon perseorangan yang menamakan dirinya sebagai BUYA.

“Kehadiran BUYA yang begitu fenomenal merupakan geliat kesadaran politik warga Kota Serang, dan boleh jadi juga sebagai representasi titik jenuh yang dirasakan warga Kota Serang dalam mengikuti peta politik di kotanya,” Terangnya.

Syamsul juga menyayangkan, adanya dugaan praktek di lapangan yang dialami oleh tim dan pendukung BUYA ternyata tidak selalu mencerminkan jiwa Pancasila terutama sila ke-4 dan undang-undang nomor 8 tahun 2015.

“Kubu BUYA mendapatkan perlakuan politik intimidatif dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, serta tekanan politik tersebut dialami kubu BUYA dalam bentuk dan kesempatan yang berbeda-beda,” imbuhnya.

Adapun menyoal perlakuan intimidasinya yakni, sesaat setelah pemasangan alat Peraga Kampanye (APK) dalam bentuk baligo, poster, dan spanduk, terjadi berbagai bentuk pengrusakan. Misalnya di Kecamatan Walantaka, baligo BUYA dirusak dengan cara dicoret di bagian wajahnya hingga menyerupai Jack Sparrow seorang tokoh bajak laut.

“Boleh jadi si pelaku memiliki halusinasi akut tentang kekalahan yang akan dialaminya. Oleh karenanya BUYA dianggap sebagai pembajak kekuatan masanya, dan hal ini merupakan lelucon yang tak lucu dan tak cerdik tetapi sebuah ironi di alam demokrasi Pancasila. Sebuah sikap kekanak-kanakan dari politikus yang tidak memiliki integritas diri.” Beber Syamsul.

Sedangkan di Kecamatan Kasemen, spanduk BUYA yang sudah dipasang disobek. Lain halnya dengan poster BUYA yang sudah dipasang hilang meskipun telah dipasang untuk kedua kalinya. Boleh jadi si pelaku merusak spanduk dan poster itu untuk alas tidurnya.

Di kesempatan lain tim BUYA mengalami intimidasi dengan cara pelarangan pemasangan APK BUYA dengan alasan wilayah tersebut diklaim sebagai wilayah kekuasaan partai tertentu. Seandainya informasi ini sampai ke telinga bang Rhoma, maka tentunya beliau akan menggeleng-gelengkan kepala sambil mengatakan sungguh terlalu…! (maaf bang haji…this is just a joke).

Lain lagi di Kecamatan Serangm kejadian yang dialami oleh salah satu Tim BUYA ini sungguh sangat tidak berperadaban sama sekali dan jelas-jelas diduga melanggar hukum pidana. Bagaimana tidak jika intimidasi politik tersebut dalam bentuk aksi penculikan terhadap anak di bawah umur dari salah seorang Tim BUYA.

“Peristiwanya terjadi pada tanggal 22 November 2017 pukul 16.30. Adapun TKP penculikan berawal di sekitar Jalan Sepang dan sekitar Jagarayu.” Terang Syamsul

Berdasarkan saksi dari korban, para penculik ini terdiri dari empat orang dengan ciri-ciri yang sudah teridentifikasi oleh korban. Mereka dalam aksinya menggunakan mobil carry berwarna biru. Peristiwa penculikan ini berawal ketika korban berjalan kaki di jalan Sepang kemudian dihadang oleh sebuah mobil.

Segera si penculik menodongkan pisau di leher anak seraya mengancam untuk tidak berteriak dan langsung dilemparkan ke dalam mobil. Sejurus kemudian, mobil melaju ke arah Jagarayu dan mencari tempat sepi jauh dari pemukiman masyarakat.

Setelah sampai di tempat sepi, para penculik tersebut turun untuk mengintograsi korban dengan mengarahkan pisau ke leher korban sambil mengancam akan membunuhnya. Si penculik menanyakan apakah benar si anak merupakan anak bapak Rohman.

Kemudian, anak tersebut menjawab apa adanya bahwa dirinya bukanlah anak dari bapak Rohman. Pertanyaan itu diulang-ulang oleh para penculik sambil mencari informasi dengan menggeledah isi tas dan pakaian si anak.

Setelah tidak mendapatkan apa yang dicari, penculik ini menendang si anak hingga terjerembab ke tanah. Sebelum penculik itu meninggalkan si anak di tengah hutan, para penculik mengatakan sebuah pesan politik intimidatif berupa perkataan, ‘Kasih tahu ke Rohman harus jaga sopan santun!

Aksi penculik tersebut boleh jadi dalam asumsinya merupakan sebuah kehebatan atau keberanian, tetapi sejatinya si penculik ini mengalami sindrom Megalomania yang parah. Mungkin para penculik ini mengalami perundungan (bullying) pada masa kecilnya.

Sehingga untuk mengatasi ketidakmampuannya mereka berkhayal dan berlaga seperti tokoh Megaloman di film anak-anak tempo dulu sekitar era 80-an. Atau dalam dunia fauna kita mengenal ikan buntal yang memiliki pola pertahanan dengan cara membesarkan diri di hadapan sesuatu yang dianggap mengancamnya.

Berita penculikan ini begitu cepat beredar di kalangan pendukung BUYA. Meskipun tanpa ada komando, mereka langsung merapat ke rumah si anak yang menjadi korban penculikan. Dalam tempo singkat, telah berkumpul kurang lebih seratus motor dan empat mobil. Fenomena ini sebagai gambaran betapa solidaritas di keluarga besar BUYA begitu kuat.

Suasana dikediaman anak yang menjadi korban penculikan
Melihat antusiasme seperti ini, orang tua dari si anak yang menjadi korban berupaya semaksimal mungkin menenangkan dan mendinginkan emosi para pendukung BUYA yang tensinya sudah begitu panas. Langkah ini harus segera diambil.

Bagaimanapun para pendukung BUYA yang datang merupakan para pemuda dan perwakilan jawara dari beberapa kelurahan terdekat. Adapun para jawara dari beberapa Kecamatan lain yang akan meluncur ke TKP langsung ditahan agar tidak terjadi hal-hal di luar kontrol.

Sebagai bentuk kesadaran hukum, pada tanggal 24 November 2017 anak yang menjadi korban penculikan dengan didampingi orang tuanya melaporkan kejadian diatas ke pihak kepolisian yaitu ke Mapolsek Serang.  Jeda waktu tiga hari antara kejadian dengan pelaporan disebabkan adanya upaya orang tua untuk menstabilkan kondisi psikologis si anak yang terguncang.

Bila melihat kronologis dari peristiwa di atas, ini sangat berkaitan sekali dengan majunya Rohman, S.Pd.I., M.A. sebagai bakal calon wakil walikota dari kubu BUYA. Dengan kwalitas profil yang melekat pada dirinya dalam kalkulasi politik akan menjadi daya magnet luar biasa. Sehingga, menjadi ancaman serius bagi kontestan lain.

Dengan peta konflik tersebut, adalah sebuah kesalahan besar bila ada pihak yang menilai bahwa semua peristiwa di atas adalah berasal dari kubu Bapak Burhanudin, S.Ag, M.Si. Alih-alih berbuat nista seperti itu, kubu Bapak Burhanudin sampai detik ini terus menambah dukungan KTP kepada Tim BUYA.

Terlebih jika mendengarkan kesaksian anak yang menjadi korban bahwa para penculik tersebut teridentifikasi ada kemiripan dengan pelaku yang mengintimidasi Tim BUYA di Kecamatan Curug, baik dari segi jumlah, umur, dan perawakan. Hanya saja ketika di Kecamatan Curug mereka menggunakan mobil Terios/Rush berwarna putih.

Dalam peristiwa lain, terindikasi kuat ada upaya pihak-pihak yang mau mengadu domba antara BUYA dengan Bapak Syafrudin selaku salah satu bakal calon Walikota. Hal tersebut terlihat ketika sesaat setelah terpasangnya baligo BUYA di Kagungan, Kec. Serang.

Secara kebetulan baligo BUYA dipasang bersanding dengan baligo Bapak Syafrudin. Namun pada keesokan harinya, baligo milik Bapak Syafrudin ada yang merusak. Boleh jadi hal ini ditujukan untuk menimbulkan prasangka dan permusuhan diantara BUYA dan Bapak Syafrudin.

Pengerusakan baligo milik Bapak Syafrudin
 Dalam kesempatan ini, Tim BUYA menyatakan dengan tegas bahwa hal itu di luar tanggungjawab BUYA. Dan kepada pihak Bapak Syafrudin agar tidak terpancing oleh intrik politik kampungan seperti itu. Kita selaku sesama bakal calon harus menjaga kesejukan iklim politik di Kota Serang tanpa membuat kegaduhan yang tidak bermakna.

“Biarlah bagi pelaku devide et impera tetap dalam dunia khayalnya, mereka merasa akan mengadu domba padahal kita bukan domba kan Pak Syafrudin?  Lagi pula kita sebagai manusia jangan mau di adu oleh domba!,” Ungkap Syamsul.

Atas segala ujian yang dialami tim dan pendukung BUYA, dikembalikan seluruhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa berdasarkan takwa dan tawakal secara totalitas. Kami percaya bahwa sunnatullah terus berjalan dan kami yakin Allah boten sare. Pada akhirnya, hanya kepada Allah kami minta perlindungan.


“Semoga dengan ujian ini semakin mendewasakan kami dalam berpolitik. Kepada seluruh warga Kota Serang haruslah tetap optimis bahwa pada saatnya Kota Serang akan maju di tangan orang-orang yang berani, unggul, yakin, dan amanah. ‘Bismillahi tawakkalna ‘alallah la hawla wala quwwata illa billahil’aliyil ‘adzim…Salam perubahan…!!!"  Pungkasnya seraya mengakhiri. (Tim BUYA)

Mengenal Lebih Dekat BUYA Dari Kota Serang

By On November 21, 2017

NEWSGEMAJAKARTA.COM, Jakarta - Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka kami para warga Kota Serang menyatakan sikap politik kami dalam konteks Pilkada dengan mendeklarasikan Bakal Pasangan Calon melalui jalur perseorangan.

Kiranya Bakal Pasangan Calon ini dapat mengikuti kontestasi pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Serang pada tahun 2018 yang akan datang.  Bakal Pasangan Calon tersebut mewakili asli putra daerah yang lahir dan besar dalam asuhan budaya Banten yang sangat kental.  Selain itu juga Bakal Pasangan Calon ini sebagai representasi dari kalangan kaum muda yang berprestasi dan tentunya memiliki rasa empati sosial yang tinggi.

Bakal Pasangan Calon ini menamakan diri dengan sebutan BUYA.  Penamaan BUYA bukanlah diambil dari penggalan nama Bakal Pasangan Calon, tetapi BUYA diambil dengan pertimbangan seorang pemimpin haruslah memiliki figur kebapakan yang harus mampu mengayomi seluruh anggota keluarganya.  Dalam konteks kepemimpinan tingkat daerah Kota Serang, hal ini berarti BUYA akan menjadi figur kepemimpinan yang mampu mengayomi seluruh warga Kota Serang secara adil dan proporsional tanpa ada diskriminasi dalam bidang apapun.  Selain itu juga BUYA merupakan singkatan dari Berani, Unggul, Yakin, Amanah. Empat kata ini berfungsi sebagai inspirasi yang mendasari jiwa kepemimpinan yang akan diterapkan.


BUYA hadir pada hari ini dilatar belakangi oleh berbagai faktor.  Salah satunya adalah drama politik yang ditampilkan oleh para politikus yang bernaung diberbagai parpol tidaklah mencerminkan semangat dan jiwa demokrasi yang sejati, dan tentunya jauh dari tujuan kenapa negara ini dibangun.  Kondisi politik transaksional memiliki efek domino terhadap berbagai sendi kehidupan, seperti pembangunan kota tidak lagi berdasarkan untuk menjamin kesejahteraan warga Kota Serang secara menyeluruh.  Dan pada gilirannya target berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Serang tidak tercapai sebagaimana mestinya. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada political will yang progresif tentunya akan menjadikan Kota Serang tetap tertinggal dari kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dengan latar belakang diataslah BUYA memberanikan diri untuk ikut dalam kancah Pilkada Kota Serang melalui jalur perseorangan.  Sikap politik ini ditempuh dengan harapan akan mampu menderaskan pembangunan Kota Serang tanpa terikat oleh politik transaksional.  BUYA berorientasi akan secara intensif membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat termasuk didalamnya legislatif demi keharmonisan antara aspirasi dengan aplikasi pembangunan Kota Serang.

Kehadiran BUYA rupanya tidak dapat menghindari dinamika politik yang berkembang.  Semenjak kehadirannya BUYA mengalami perubahan formasi Bakal Pasangan Calon yang diusung.  Perubahan tersebut bukanlah berarti adanya perpecahan dalam diri BUYA, tetapi sebaliknya sebagai cerminan sikap kedewasaan berpolitik.  Perubahan ini semata-mata agar cita-cita para pendukung BUYA tetap terjaga hingga berhasil lolos berbagai verifikasi KPU dan bisa mendaftarkan diri sebagai salah satu kontestan dalam Pilkada Kota Serang.  Tidak hanya cukup sampai disitu cita-cita kehadiran BUYA, tetapi diharapkan BUYA akan memenangkan Pilkada Kota Serang sehingga mampu manjadikan Kota Serang sebagai perwujudan baldatun thayyibatun warabbun ghafur atau dalam bahasa lain dikenal dengan gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.

Pada awalnya Tim BUYA memiliki kekhawatiran akan munculnya sentimen negatif  dari perubahan formasi BUYA.  Kekhawatiran itu rupanya hanya sekedar kekhawatiran belaka, karena bagaimanapun kekhawatiran tersebut tidak terjadi dilapangan, kalaupun muncul sentimen negatif hanyalah dalam skala kecil, dan itu wajar adanya.  Terbukti dukungan terhadap Bakal Pasangan Calon BUYA tetap terus mengalir dan bertambah pada tiap harinya yang terlihat dari jumlah KTP dukungan yang semakin banyak.  Bahkan perubahan diatas menjadikan Tim BUYA semakin solid dilapangan.  Karena bagaimanapun Tim BUYA dan para pendukung tidak terjebak pada figur kandidat belaka, tetapi kepada visi, misi dan program yang diusung oleh BUYA.  Tegasnya betapa indahnya sikap kedewasaan berpolitik seperti ini.

Perlu diketahui, untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas BUYA telah dan terus melakukan langkah-langkah politik yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.  BUYA telah melaksanakan program safari politik kepada seluruh lurah yang ada di Kota Serang.  Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap pemerintahan yang ada dan sekaligus menerapkan etika politik yang baik.  Safari politik tersebut perlu dilakukan karena Tim BUYA akan bersentuhan dengan para warga dalam rangka mencari dukungan KTP di tiap-tiap kelurahan.

Safari politik pun dilakukan BUYA kepada para tokoh masyarakat sebagai bentuk sikap penghormatan sekaligus untuk menyerap aspirasi langsung dari para tokoh tersebut sebagai representasi seluruh warga lingkungan setempat.  Begitu juga BUYA melakukan safari politik ke berbagai kelompok masyarakat baik bersifat paguyuban maupun dalam bentuk-bentuk lainnya.  Hasil dari seluruh safari yang dilakukan menunjukkan respon positif  terhadap kehadiran BUYA.  Respon positif masyarakat tersebut diperkuat dari hasil survei yang dilakukan oleh Tim BUYA dalam beberapa kesempatan.  Dari satu survei ke survei selanjutnya menunjukkan hasil peningkatan baik popularitas maupun elektabilitas BUYA.  Semoga secara grafis BUYA terus mengalami trend positif sampai memenangkan Pilkada Kota Serang.

Peningkatan popularitas dan elektabilitas BUYA juga didukung dengan pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) dalam bentuk: baligo, poster, spanduk, brosur, dan stiker.  Selain itu Tim BUYA pun memfungsikan Tim Cyber guna mensosialisasikan BUYA.  Semua langkah ditempuh dan disesuaikan untuk masuk keseluruh segmen masyarakat.

Tim dan pendukung BUYA tetap berusaha menjaga integritas dan sikap dewasa dalam berpolitik ketika menghadapi berbagai fenomena yang ganjil.  Seperti terlihat ketika sesaat setelah pemasangan APK BUYA terjadi pembersihan oleh Satpol PP, walaupun sebelumnya pada jalur tersebut sejak jauh hari terdapat banyak APK dari kandidat lain.  Padahal Tim BUYA dalam pemasangan APK berusaha seoptimal mungkin tidak keluar dari Peraturan KPU nomor 4 tahun 2017 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Selain itu juga didapati di lapangan oleh Tim BUYA adanya perilaku politik yang tidak beretika.  Pernah pada suatu hari Tim BUYA yang berada di Kecamatan Serang dan Taktakan mendapati adanya tim dari kandidat lain yang sedang berusaha menghilangkan APK BUYA dan selanjutnya diganti dengan APK kandidat lain.  Perilaku tidak beretika lainnya adalah merusak APK BUYA dengan cara merobek atau membakar bahkan mencabut APK BUYA yang telah dipasang.  Lebih tragis lagi, ada salah seorang Tim BUYA yang ada di Kecamatan Curug mendapatkan intimidasi dari pihak yang tidak bertanggungjawab agar keluar dari Tim BUYA.

Adapun kepada KPU Kota Serang kami Tim BUYA mengapresiasi atas kerjasama yang telah dibangun. Hanya saja pada kesempatan ini perlu kami sampaikan evaluasi dan harapan agar kedepan menjadi lebih baik.  Karena bagaimanapun kami mendapati inkonsistensi tentang informasi yang diberikan KPU Kota Serang kepada para bakal calon, terutama jalur perseorangan tentang pengerjaan Sistem Informasi Pencalonan (SILON).  Berdasarkan notulensi yang ada pada Tim BUYA, pada pertemuan tanggal 11 Oktober 2017 KPU Kota Serang menyatakan pengerjaan SILON dilakukan oleh KPU.

Tetapi belakangan hari pada pertemuan berikutnya tertanggal 04 November 2017, KPU Kota Serang menyatakan pengerjaan SILON dilakukan oleh bakal calon.  Inkonsistensi informasi seperti ini berimbas secara langsung kepada rencana kerja Tim BUYA yang telah dirancang.  Sehingga menambah beban kerja kami secara drastis. Karena bagaimanapun pengerjaan SILON bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan, itu membutuhkan tenaga, waktu, dan dana ekstra berlipat ganda.  Namun pada akhirnya, dengan soliditas dan jiwa membaja dari Tim BUYA semua imbas inkonsistensi informasi tersebut dapat diatasi secara bertahap.

Semua pujian maupun ujian seperti tergambar diatas menjadi bahan bakar mesin politik BUYA untuk melakukan akselerasi demi terealisasinya kemenangan Visi, Misi, dan Program BUYA.  Kemenangan BUYA tidak lain dan tidak bukan merupakan kemenangan warga Kota Serang.  Oleh karenanya kami dari Tim dan pendukung BUYA mengharapkan do’a dan dukungan kepada seluruh warga Kota Serang agar cita-cita politik kita semua terlaksana.

Untuk mengenal lebih jauh apa dan siapa itu BUYA silahkan kunjungi sekretariat dan website kami di Link. Bangkalok RT. 001/001 Kelurahan Pasuluhan Kecamatan Walantaka, website:www.buyakotaserang.com atau dapat melihat video kami di Youtube “BUYA Langkah Kecil Menuju Perubahan”. (*Tim BUYA)

SALAM PERUBAHAN

Di Simposium Nasional Kebudayaan, Slamet Supriyadi Soroti Indonesia Tengah Darurat Narkoba

By On November 20, 2017

NEWSGEMAJAKARTA.COM, Jakarta - Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) tengah menggelar simposium Nasional kebudayaan bertempat di Balai Kartini, Jakarta, Senin (20/11/2017). Dengan mengambil tema " Pembangunan Karakter Bangsa Untuk Melestarikan dan Menyejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945".

Acara yang didukung oleh Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) dan Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti (YSNB). Dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo dengan didampingi Menkopolhukam Wiranto, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, serta Ketua Umum PPAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri.

Dalam sambutannya Bapak LetJend ( Purn ) Selamet Supriiyadi  mengatakan bahwa acara yang sudah lama direncanakan oleh PPAD ini sejak tahun 2013. Melihat perkembangan bangsa pasca reformasi.

“Bangsa ini semakin kehilangan jati dirinya. Masyarakat makin meninggalkan Pancasila, mereka banyak mengambil budaya luar,” Ujarnya dalam sambutan.

Slamet Supriyadi juga menyoroti soal negara Indonesia yang sedang tengah darurat Narkoba, bahaya LGBT, dan masalah korupsi. Ada lagi tindak pidana-tindak pidana lainnya.


“Alhamdulillah pada hari ini berkat dukungan Menko Kemaritiman, Mensesneg, dan Menteri PPN kami bisa menyelenggarakan acara ini. Hasil pembahasan simposium ini akan jadi masukan kepada Bapak Presiden dalam program nasional revolusi mental," Pungkasnya. (*Red)